Ketika fajar baru saja menyingsing di cakrawala Kabupaten Batu Bara, Rabu pagi, 4 Maret 2026, kesunyian di sepanjang Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum) wilayah hukum Polsek Indrapura dipecah oleh deru mesin mobil patroli. Tepat pukul 05.00 WIB, empat personel kepolisian mulai menyisir aspal hitam, bergerak di antara keremangan subuh untuk mengantisipasi potensi kerawanan sosial.
Patroli subuh ini bukan sekadar rutinitas. Ia adalah langkah taktis kepolisian untuk menjawab keresahan warga terhadap tiga momok jalanan: balap liar, begal, dan tawuran remaja yang kerap pecah saat pengawasan melonggar di pagi buta.

Empat personel yang ditugaskan—Aiptu Ramlan, Aipda Jusman Sagala, Brigadir Joni M. Sinaga, dan Brigadir Sudirman Nainggolan—memfokuskan pengawasan pada rute-rute krusial. Jalinsum Indrapura, yang merupakan urat nadi logistik, hingga Jalan Access Road Inalum dan Simpang Inalum menjadi sasaran utama penyisiran.
Kawasan-kawasan tersebut selama ini dipetakan sebagai titik rawan aksi 3C (Curat, Curas, dan Curanmor). Kehadiran rotator biru yang membelah kegelapan menjadi sinyal preventif bahwa ruang gerak bagi pelaku kriminalitas jalanan telah dipersempit.

”Kegiatan ini difokuskan untuk memelihara Kamtibmas dan mencegah terjadinya gesekan antar-kelompok seperti tawuran, maupun aksi adu kecepatan ilegal yang membahayakan pengguna jalan lain,” tulis laporan resmi Polsek Indrapura yang diterima Tempo.
Selain melakukan pengawasan statis dan dinamis, para petugas juga menyempatkan diri berdialog dengan warga yang mulai memulai aktivitas pagi. Pesan yang disampaikan lugas: kewaspadaan terhadap aksi begal tidak boleh kendor, dan partisipasi publik dalam menjaga kondusivitas wilayah adalah kunci utama.

Langkah jemput bola ini dinilai efektif untuk meredam niat para pemuda yang kerap memanfaatkan lengangnya jalanan subuh untuk kegiatan negatif. Kehadiran fisik personel kepolisian di lapangan menjadi deterjen atau penghalau bagi potensi gangguan keamanan.
Hingga matahari naik sepenggalah, situasi di wilayah hukum Polsek Indrapura dilaporkan dalam keadaan aman dan terkendali. Tidak ditemukan adanya kerumunan massa yang mencurigakan maupun gangguan Kamtibmas yang berarti. Upaya menjaga “fajar yang tenang” ini dipastikan akan terus berlanjut secara konsisten demi menjamin kenyamanan warga Batu Bara.(BOYS-3)

