Aset Negara Jadi Ajang Bisnis Praktek Pungli di Toilet Kantor Camat Air PutihdiLakukan Oknum Kapling.
Batu Bara//satgasmigas.com.
Praktik pungutan liar (pungli) tidak hanya terjadi pada sektor pelayanan. Fasilitas publik pun nyatanya menjadi sasaran empuk oknum-oknum pelaku pungli di kantor camat air putih . Seperti yang terjadi di Lapangan bola kaki Indra sakti karena ada pasar malam di lapangan bola kaki Indra sakti.
Lapangan bola Indra sakti, di gedung atau salah satu aset pemerintah kabupaten batubara di bangun dan dibenahi oleh pemerintah kabupaten batubara bersumber APBD Kabupaten Batubara menjadi cantik dan nyaman menjadi sarang pungli bagi oknum nakal.
Salah satunya fasilitas kamar mandi bagi para pengunjung. Kondisinya bersih setelah mendapat sentuhan perbaikan. Namun, sayang masyarakat tidak bisa menikmati fasilitas tersebut dengan gratis.
Dengan dalih biaya kebersihan, sejumlah oknum menarik ‘retribusi’ sebesar Rp 2.000 kepada pengunjung yang menggunakan kamar mandi. Penarikan terjadi di kamar mandi pria maupun wanita.
Berdasarkan pantauan Awak media pada Sabtu (06/06/2016), seorang pria terlihat duduk di dalam kamar mandi pria sambil memegang segepok uang pecahan Rp 2.000 di lengang kirinya.
Ternyata pria itu bertugas menarik retribusi dari pengunjung di duga salah satu Kapling di kelurahan. Sebelum keluar kamar mandi, pengunjung melintasi pria itu dengan memberikan uang Rp 2.000 sebagai retribusi.
“Berdalih uang kebersihan (buat uang kebersihan).
Dengan dalih biaya kebersihan, sejumlah oknum menarik ‘retribusi’ sebesar Rp 2.000 kepada pengunjung yang menggunakan kamar mandi. Penarikan terjadi di kamar mandi pria maupun wanita.
Salah seorang pengguna kamar mandi, Melia (33) mengaku merasa dirugikan dengan penarikan retribusi tersebut. Meskipun uang yang dikeluarkan tak besar, namun tidak seharusnya terjadi.
“Kalau seharusnya gratis tapi ini bayar, itu kan namanya pungli. Walaupun enggak besar tapi tetap merugikan,” ucap warga asal Lima Puluh Kabupaten Batubara ini.
Menurutnya seharusnya pemerintah turun tangan untuk mengawasi hal ini. Mengingat, oknum-oknum itu menarik retribusi untuk keuntungan pribadi bukan pemasukan pemerintah.
“Ini mah buat perut mereka sendiri, bukan disetor ke pemerintah. Harusnya ditindak yang seperti ini,” tegas dia.
(Herman Manurung)

